Archive for the ‘philosophy’ Category

Finally Realise Something…

Wednesday, June 3rd, 2009

Menimbang…

  1. Terlalu banyak ide yang berseliweran yang tidak cukup dimasukkan dalam tag-tag yang tersedia.
  2. Terlalu beragam tema dan gaya untuk sebuah blog saja.
  3. Sibuk bermain travian.

Memutuskan…

  1. Tidak akan terlalu sering mengupdate blog ini lagi.
  2. Mempertahankan domain dan hosting selama harganya masih masuk akal.

iquit-741982

Apakah Kalian Bisa Membantu Pocoyo?

Friday, February 13th, 2009

Pocoyo adalah film pendidikan anak-anak yang tiap episodenya cuma tujuh menit dan mengandung ajaran seperti mengenal bentuk, tinggi atau benda. Aslinya dari Spanyol, tapi yang di sini adalah yang versi Inggris. Naratornya di versi Inggris adalah Stephen Fry, yang selalu menanyakan kepada para anak-anak apakah mereka bisa membantu Pocoyo untuk mencari bentuk, warna, atau kegunaan benda yang dimaksud. Acaranya sangat mirip dengan Dora atau Blues Clues.

Kadang dalam hidup ini, ingin rasanya ada Narator yang bertanya kepada audiens yang tidak terlihat,

“Apakah kalian bisa membantu? Manakah yang harus dipilih? Pekerjaan yang menyenangkan tanpa masa depan, atau pekerjaan membosankan dengan banyak uang?”

“Tahukah kalian mana yang terbaik? Apakah gadis yang dicintainya sepenuh hati atau gadis baik-baik pilihan orangtuanya?”

Tentu saja, anak-anak itu akan menjawab dengan benar dan Pocoyo akan menaati semua jawaban anak-anak itu sambil mengangguk-angguk.

Sayangnya persoalan hidup terkadang tidak semudah menentukan bentuk, warna, atau benda.

Suara Hati, Suara Misteri

Wednesday, January 21st, 2009

Frase “suara hati” adalah frase yang paling menjebak di seluruh dunia karena menurut saya, hati kita tidak bersuara. Kebanyakan yang bersuara adalah otak dan otak dan otak. Kebanyakan penduduk di dunia menggunakan suara otak yang mereka anggap adalah suara hati. Saat semua yang mereka putuskan salah, mereka menganggap suara hati mereka yang salah, dan stop mendengarnya lagi. Mereka kemudian bergantung pada otak dan logika, padahal yang selalu mereka dengar dari awal adalah suara otak.

Jadi, bagaimana kita bisa memilih mana keputusan yang benar atau tidak? Kita masih bisa menggunakan hati kita. Cuma bukan dengan suara-suara. Kita cukup duduk diam sejenak, memejamkan mata dan bertanya apakah keputusan kita ini benar atau salah.

Biasanya saya merasakan hati saya enak, tenang dan nyaman apabila keputusan yang saya buat itu adalah keputusan yang benar. Perasaan mengembang di dalam dada, bahwa semua di dunia ini akan berjalan dengan baik-baik saja.

Sudahkah kita merasakan hati nurani kita sendiri?

written by : Shirin

Spiritual tapi Tidak Religius

Wednesday, January 7th, 2009

shirin Sebuah pilihan di situs pertemanan membuat saya tertegun. Di kolom agama terdapat pilihan “spiritual but not religious”. Meskipun saya merasa kadang-kadang seperti ini, tapi sebenarnya apa sih artinya?

Spiritual lebih bersifat pribadi,
hubungan khusus dengan yang Maha Tinggi
hubungan yang personal, intim dan mesra

Saat saya berdoa dengan sungguh-sungguh, terkadang saya merasakan bahwa di dunia ini hanya ada saya dan Dia. Biasanya saya yang bercerita dan Dia mendengarkan.

Religius lebih mengarah ke agama,
seberapa sering ke tempat ibadah
menjalankan nasehat yang ada di kitab suci
mendengarkan ceramah pemuka agama

Sejujurnya saya memang bukan orang yang taat beragama. Akan tetapi, salahkah saya kalau misalnya saya merasa dekat dengan Dia, tanpa melalui agama?

written by : shirin

Memulai Gerakan Sandal

Friday, December 12th, 2008

Apa itu gerakan sundal sandal? Sedang teringat saja cerita tentang seorang raja yang kakinya kepanasan saat berjalan tanpa alas kaki di sepanjang jalan menuju istananya. Raja ini terus memerintahkan agar seluruh jalan dilapisi karpet biar kakinya tidak kepanasan. Namun, penasihatnya bilang, daripada seluruh jalan dikarpet dan mahal, mendingan juga kakinya Tuan Raja yang dilapisi “karpet”, dan begitulah sejarah sandal pertama di dunia.

Setiap kali blogwalking, saya membaca banyak posting yang menulis tentang apa yang salah dengan Indonesia dan dunia ini. Ada yang besar seperti masalah korupsi atau UU Pornografi, sampai yang personal soal temen yang tidur saat nebeng mobilnya. Kebanyakan memang cerita tentang faktor luar yang ada di sekitarnya, tapi ada juga yang melihat ke dalam dirinya sendiri. Ada banyak ide untuk memperbaiki kekurangan di lingkungannya, namun kadang sedikit ide untuk memperbaiki diri sendiri.

Ada baiknya kita berpikir untuk membuat sandal dan bukan menebarkan karpet di jalan.

Kemasan yang Lebih Penting

Thursday, December 4th, 2008

Jaman sekarang, apa sih yang enggak dibajak? Mulai dari lagu, film, buku, kapal tanker, sawah, semuanya dibajak. Pembajakan membuat semuanya dapat dibeli dengan lebih murah dan bahkan gratis. Jadi sekarang apa lagi nilai jual barang-barang yang dapat dibajak? Arrrgghh!

Satu hal yang masih menarik menurut gue adalah kemasan. Itulah satu-satunya alasan gue dan istri masih suka nonton film di bioskop meskipun di Glodok ada barang bajakan yang lebih murah setengahnya dan bisa ditonton kapan saja. Film terakhir yang kami tonton (Journey to The Center of The Earth 3D) membuktikan bahwa kemasan yang bagus masih bisa dijual kepada orang-orang yang ingin merasakan sensasi lebih sebuah film.

Ini pula yang menyebabkan teman gue menyumpah-nyumpah gara-gara Rihanna batal datang ke Jakarta atau kenapa Jakjazz masih ramai dikunjungi orang. Semua ingin merasakan apa yang tidak bisa dibajak. Bahwa meskipun kita bisa memiliki barang bajakan, tetap saja tidak bisa merasakan kualitas lain dalam kemasan.

Mengutip salah satu pernyataan koki terkenal, penyajian yang tepat dapat membuat rasa makanan terasa lebih lezat.

Jadi, apakah yang lebih kalian pentingkan? Isi atau kemasan?

XDR-TB, A New Threat for The Poor

Wednesday, October 15th, 2008

What is XDR-TB? Most of you probably know that TB stands for Tuberculosis. A bacteria that infected one in three people in this world. XDR stands for Extensively/Extremely Drug Resistant. XDR-TB is a form of TB caused by bacteria that is resistant to the most effective anti-TB drugs. It affected all of us, but mostly the poorest people with the worst health condition.

I noticed this particular disease from this TED’s talk about James Nachtwey, a well-known photografer that captures lives of people affected by XDR-TB using his camera.  The photographs are also printed in TIME Asia that I read last week. I take it as a sign that i must write about XDR-TB as well.

Visit this site xdrtb.org and see some disturbing yet touching photographs from James Nachtwey that travels around the world to take a snapshot of life infected by XDR-TB. I encourage you to watch all the photographs because it’s really an eye and mind opener. Please raise awareness to XDR-TB in the world, especially in Indonesia.

Based on the latest statistics from WHO, as of June 2008, 49 countries have confirmed cases of XDR-TB. Indonesia is not included but once there’s such a case, there’s a possibility that it can spread one to another very quickly.

Please write about XDR-TB or place below banner to raise awareness about XDR-TB in Indonesia.

XDRTB-Banner1
<A HREF=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner1.jpg”><IMG SRC=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner1.jpg” ALT=”XDRTB-Banner1″></A>
XDRTB-Banner2
<A HREF=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner2.jpg”><IMG SRC=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner2.jpg” ALT=”XDRTB-Banner2″></A>
XDRTB-Banner3
<A HREF=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner3.jpg”><IMG SRC=”http://www.lplpx.com/images/xdrtb-banner3.jpg” ALT=”XDRTB-Banner3″></A>

The World Without Us

Monday, October 13th, 2008

Ever wondered what’s like if world without us? Visit this site to catch a glimpse of the future. No more corruption, no more pornography, no more war. Seems like a good place. Too bad, I’m not going to be there to enjoy it, unless I morph into Gorilla.

World Without Us