Cuaca yang Tahan Dikritik

Kewarasan seseorang di Jakarta sangat tergantung pada cuaca. Kalau dia hendak pulang dan tiba-tiba hujan, dia bisa jadi kehilangan kewarasannya dan mengutuk hujan sekejam-kejamnya, karena jalanan pulang pasti macet.

Namun, tidak ada gunanya juga dia melakukan hal itu, karena cuaca tidak akan tiba-tiba menjadi cerah hanya karena dikritik satu orang. Sebab itu, kita juga jangan mudah berubah kalau dikritik orang. Jangan seperti orang-orang yang tiba-tiba menuntut media atas tuduhan mencemarkan nama baik, padahal semata-mata cuma dikritik.

Bayangkan kritik itu seperti seseorang yang meludah ke lautan atau melempari gunung dengan kerikil. Apakah lautan dan gunung akan kehilangan keagungannya apabila ada ludah dan kerikil yang menodai keindahannya itu?

Tidak.

Jadilah seperti cuaca. Apapun yang terjadi, hujan terus!

Powered by Qumana

Bookmark and Share

Tags: , , , ,


Related Posts:
  • Menyalahkan Perubahan Cuaca
  • New Habit because Nguping Jakarta
  • Kenapa Jakarta lebih baik dari Hongkong? [Perjalanan]
  • 2 Responses to “Cuaca yang Tahan Dikritik”

    1. alit Says:

      semacam pepatah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, dan kalau perlu tabrak saja anjingnya… hehehe

    2. Cely Says:

      apaan sich maksudnya…uuhhh

    Leave a Reply