Laskar Pelangi! Laskar Pelangi! Laskar Pelangi!

I’m talking about the movie, of course. Not the book. Me and my buddy talked about this movie on the phone the other night and we agreed that Laskar Pelangi is a great movie measured by other Indonesian movies that also hit the cinema at the same time (Cinlok, Barbi3, Chika, Suami-suami Takut Istri) or most of Indonesian movies overall. Here’s why Laskar Pelangi deserve three exclamation marks.

The first (!) goes to the children. Eventhough there are a lot of minor character with familiar faces from Tora Sudiro to Jajang C. Noor, all the children in Laskar Pelangi can act.

The second (!) goes to the script. Laskar pelangi is more like a documentary movie. It has a narrator (Lukman Sardi), an alligator, and even a local dance. But that’s the correct way to capture the essence from Andrea Hirata’s Laskar Pelangi. I really wish they can make the scene where Lintang’s father died more memorable.

The third (!) goes to the cinematography. It’s the one thing that guarantee to save Indonesian movie. Throw in the cinematography. The story can be dull and lame, but at least you can enjoy the scenery. I don’t think there’s more shot on rainbow in any other movie than Laskar Pelangi.

A job well done. No sinetron version, please.

Tags: , , , ,


Related Posts:
  • You Complete Me (The Dark Maguire)
  • 14 Responses to “Laskar Pelangi! Laskar Pelangi! Laskar Pelangi!”

    1. Jiewa Says:

      Selalu penuh tantangan untuk memfilmkan sebuah buku. Pertama, salah dikit bisa dihujat fans pembaca bukunya. Kedua, harus memilih adegan2 yg cukup mewakili cerita di buku sembari mencocokkan dengan durasi yang cuma sekitar 2 jam :D

    2. Mas Kopdang Says:

      Ane belum nonton. Termasuk juga belum baca bukunya. Bila mendengar peranan anak-anak, skripnya dan sinematografinya tokcer, apalagi dari pengamat yahud sekelas Bung Koko, ane jadi tertarik untuk nongton. Nanti ane kasih pendapat lagi deh setelah menyaksikan sendiri.

    3. Sharon Says:

      Ho… Keren banget emang nih pelem. Menurut aku selama sinetronnya keren kaya arisan itu, BOLEH SAJA :)

      memeprkaya khazanah sinetron indonesia *apaan coba*

    4. nie Says:

      laskar pelangi!laskar pelangi! everybody talk about it. jadi penasaran, hehehe..

    5. Fitra Says:

      ho oh, I love the movie much more than the book, movienya justru terasa lebih membumi, soalnya ga kebayang aja gimana si Mahar bisa maenin lagu Tennesse Waltz…di movie diganti dengan lagu seroja terasa lebih enak dinikmati…..

    6. Masenchipz Says:

      terharu ama perjuangan mereka…

      btw

      TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM TAQABBAL YA KARIM. MINAL AIDIN WAL FAIZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YAAAA…. MULAI DARI NOL YA… HE..HE…

    7. akhyari Says:

      kalau ada versi sinetronnya, kita rame rame demo aja

    8. Rindu Says:

      You said that you will watch that movie with me .. koq malah ninggal :(

    9. mittamitt Says:

      waaah ini film kesukaan saya sekarang loh haha :D
      maharnya lucu .. film ini penuh dengan pelajaran pelajaran hidup yg gk bisa didapatkan di bangku sekolah seperti sekarang ini, sangat menarik dan merupakan tontonan wajib

      anyway makasih ya udh mampir :)

    10. irrr Says:

      ahaha…

      mahar the best :D

    11. Fachia Says:

      hehe.. jadi fenomena banget nih film..
      nunggu CD nya nongol direntalan dulu aja ah..

    12. natazya Says:

      blom nonton :(

      rame…

      males :p

      tapi semoga ga kaya AAC deh…

      aku kecewa dengan euforia publik yang ternyata biasa biasa saja setelah melihat sendiri…

    13. Mas Kopdang Says:

      sesuai janji ane di sini:
      http://www.lplpx.com/2008/10/04/laskar-pelangi-laskar-pelangi-laskar-pelangi/#comment-764

      maka pendapat ane setelah nongton sendiri sebagai berikut:
      Filmya asyik. Awalnya ane udah berniat mau nongton tuh film secermat mungkin, mencari kesalahan Riri dan Mira.

      Rupanya ane kecele!
      Filmnyah begitu menggugah. Perkara nasib manusia. Tentang hikmah berkeluarga. Tanggung jawab sebagai manusia.

      Salut!
      kritiknya cuma dua:
      1. Wardrobe (bener gak nulisnya) urusan kostum belum terperhatikan dengan seksama. Model tahun 74, itu cingkrang, cutbray..tapi rombongan PN Timah terlalu “masa kini”
      2. Godaan nepotisme dari Mira untuk memainkan suaminya. Padahal tokoh bapak masih bisa diperankan oleh aktor lain, misalnya: Tabah Penemuan. (lenggok melayu akan lebih fasih dan profil yang mantab!).

      Majulah Film Indonesiaku!
      Jlegerrr!!!
      ;)

    14. Ifa Says:

      Bln nonton.. filmnya blon sampe ke desa sayaa

    Leave a Reply